Ibu, Hanya Ibu

Karya Noor Sa’adah

            Sebelum duniaku benar-benar gelap, udaraku benar-benar pengap, dan segalanya menjadi tak bergerak, aku ingin mengingat satu hal, satu hal yang mungkin tak berarti bagi siapapun, satu hal yang tak kan pernah diingat, satu hal yang akan kembali berulang, satu hal yang bagiku adalah satu-satunya ingatan terindah tentang seseorang.

            “Ibu…Ibu…Ibu…tak ada ayah”

* * *

Semenjak usiaku menginjak dua minggu, aku baru mengerti akan arti dari dunia, hidup dan kehidupan. Orang-orang di sekelilingku memujiku dengan berkata bahwa aku cantik, aku imut, aku manis dan aku bahagia mendengarnya.

            Perjalanan hidupku tak panjang, hanya setengah semester. Namun suka citaku dalam mengerti arti hidup melebihi wanita jalang yang seloyoran tak karuan di jalan.

            Ibu adalah orang yang kucintai sebelum aku mengerti arti dunia, hidup, dan kehidupan. Ia membelaiku sayang di tiap-tiap malam penuh bintang, berlonjak-lonjak bersamaku sampai beberapa kali aku harus membenahi posisiku yang telanjang. Ia memberiku makan yang enak-enak, berbagai macam buah, berjenis-jenis sirup yang membuatku sedikit melayang hingga berbagai bentuk permen yang tak kumengerti apa rasanya. Tapi aku bahagia.

            Ibuku begitu cantik. Kulitnya bersih, matanya bulat, rambutnya panjang bersambung dengan helaian-helaian sintetis tergerai indah hingga punggung. Ia mengenakan gaun yang berwarna putih abu-abu di setiap paginya sambil terus memandangi aku di depan kaca. Meski muka ibu putih sepucat awan ia tetaplah wanita menawan. Bersama ibu, kudapatkan banyak arti, banyak hati, banyak caci maki. Namun senyum ibu selalu mengingatkanku bahwa ia menyayangiku dan tak ada satu pun yang perlu kukhawatirkan, karena aku memiliki ibu.

            “Kasih Ibu sepanjang jalan” begitulah yang kudengar dari seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai guru yang kukenal sebagai ayahku. Ayah? Siapa dan bagaimana ia tak penting bagiku, karena yang penting adalah ibu. Selain kata-katanya yang kurasa memang benar, aku tak lagi mau tau apapun tentang ayah. Ibu pun tak pernah bercerita, hanya sorot matanya ketika aku bertanya, membuat aku mengerti bahwa aku tak perlu tahu apa yang dimaksud dengan kata “ayah”. Cukup Ibu. Hanya Ibu.

            Tetapi beberapa hari ini aku sedikit tak menyukai ibu. Bukan karena ia terus saja menangis dan merobek baju-baju dan menampar-nampar mukanya dan menendang-nendang pintu dan membanting-banting telponnya dan menginjak-injak buku dan menyayat-nyayat dagingnya dan….Bukan ! Bukan itu! Aku sedikit tak menyukai ibu karena ia terus saja memukuliku. Sejak pagi hingga petang terus-terusan mengunciku dan dirinya di dalam kamar mandi. Membasahiku dan dirinya dengan air sedingin es. Aku hampir mati, hampir kehilangan nyawa.

            “Ibu kenapa?! Ibu kenapa?!” teriakku meronta-ronta menendang-nendang perut ibu. Aku sudah tak tahan dengan cairan menjijikkan berbau amis mengalir melewati tenggorokanku, melewati selangkangan ibu.

            “Sakit Bu, sakit!” isakku memohon pengampunan ibu, tapi ibu tak mau mendengar, tak mau mengerti. Aku menangis sejadi-jadinya, namun kali ini bukan karena badanku yang tak lagi berbentuk melainkan karena ibu yang juga menangis kesakitan. Deritanya menahan sakit menjalar sampai ke jantungku yang berdegup kian pelan. Meski aku masih tak mengerti mengapa ia marah kepadaku, aku membelainya sayang. Tak lagi kutendang perutnya, tak jua kupukul dadanya. Aku ingin menghiburnya, menyampaikan rasa sayangku untuknya, membuatnya terlelap dan tak lagi berupaya melukai dirinya sendiri. Dengan alasan apapun, aku tak mau terima, bagaimanapun juga aku tak mau melihat ibuku menderita. Kunyanyikan ibu dengan lagu tentang cinta, lagu kasih sayang yang pernah ku dengar sebelum aku bertemu dia, lagu surga, lagu untuk ibu.

            Beberapa saat kemudian dendangan ku terhenti, karena ada suara gedoran-gedoran ribut di pintu kamar mandi. Tampak seorang wanita tua masuk setelah memecah pintu dengan sebuah benda besar, lancip dan berkilau. Ia terbelalak sesaat melihat pemandangan nista aku dan ibuku. Ia berteriak histeris sambil mengguncang-guncang bahu ibu.

            “Ummi !! Ummi bangun!!! Bertahanlah Ummi…! Bertahanlah nak….”

                                                                        * * *

            Ibu pingsan dan mungkin aku juga pingsan. Karena hal yang kuingat setelah seorang wanita tua masuk dan memanggil ibu dengan nama Ummi, yang kurasa hanya gelap, kemudian berganti dengan terang. Sekelilingku terasa berwarna putih. Surga kah ini? Tidak, ini rumah sakit. Aku terbaring bersama ibu, lelah dan serasa kehilangan banyak nafas. Ibu terlelap, namun wajahnya tampak lebih segar dibanding tadi, sedang wanita tua yang memeluk ibu kemarin sedang berbicara sambil sesekali terdengar isak tangisnya dengan seseorang berpakaian putih. Mungkin malaikat.

            “Saya mohon, Dok. Lakukan saja, ini aib Dok, aib….” sesekali wanita tua itu menyeka matanya, orang yang dipanggil Dok itu masih diam, sesaat aku berpikir, mungkinkah nama orang itu Kodok?

            “Saya mau bayar berapa saja, asal aib itu hilang secepatnya, Ummi menderita Dok, keluarga kami menderita, saya mohon Dok….” wanita itu mengangkat sehelai kertas, si Dok itu menatap tajam kertas, kemudian ia mengangguk cepat sambil menyambar kertas itu. Barulah kusadar bahwa namanya mungkin benar-benar Kodok, karena barusan ia sekilas mirip makhluk yang melompat itu saat ia merasakan kehadiran nyamuk disekitarnya.

            Ibu masih belum bangun, namun aku sudah merasa sehat kembali. Apalagi luka yang kuderita akibat perlakuan ibu kemarin sudah tak berbekas lagi. Ibu, cepatlah bangun, aku ingin melihatmu kembali tersenyum sambil membelai kepalaku lagi. Aku ingin melihatmu bernyanyi, berlari, bahkan berlonjak-lonjak, meski itu agak sedikit tak mengenakkan untukku, tapi asal ibu kembali seperti dulu apapun akan kulakukan. Demi ibu.

            Sambil menunggu ibu bangun, aku melamun mengingat masa-masaku bersama ibu dan alasan-alasan mengapa ibu begitu sering memukuliku akhir-akhir ini. Hidupku bahagia lalu berubah menjadi aneh ketika suatu hari ibu menemukan dua garis merah di sebuah benda tipis persegi panjang di tangannya. Ia mendekap mulutnya kemudian menangis, duduk bersimpuh di depan kaca rias. Saat itu aku masih terlalu muda untuk mengerti tangis ibu, meski aku masih belum tau apa maksud tangisnya, tapi kurasa mungkin ibu bahagia mengetahui keberadaanku. Ia mengambil benda kecil berbentuk kotak hitam lalu meletakkan di telingannya.

            “Bi…Abi…a…aku hamil”

            Tangisnya kemudian pecah, ia membanting Hp-nya ke dinding. Saat itu gerimis sudah menjadi hujan lebat. Keremangan malam sudah mulai merambah ke dalam kamar ibu, dan semuanya menjadi benar-benar jelas. Mungkinkah, mungkinkah ia membenciku? Seketika senyum di wajahku lenyap. Aku tidak ingin semua menjadi terang jika akhirnya akan menggelapkan hatiku, harapanku.

            Belum lama aku tersadar oleh hal yang kurasa seperti biji neraka jatuh di atas kepalaku, si Kodok tiba-tiba masuk bersama dayang-dayangnya. Membawa berbagai macam benda-benda aneh yang mengerikan. Tubuh ibu yang halus ditelanjangi, seluruh pakaiannya di lepas, diganti dengan selapis kain berwarna hijau. Semuanya terjadi begitu cepat. Si Kodok memasukan sesuatu dan menyetuh kepalaku keras. Sakit! Sungguh sakit. Tiba-tiba aku merasa seperti tercabik-cabik, terbelah-belah menjadi jutaan bagian, aku menangis pedih. Tubuhku sakit, jiwaku sakit, hatiku sakit. Teganya, teganya mereka melakukan semua ini padaku, apa salahku? Aku ingin hidup, aku hanya ingin terus memeluk ibu, aku ingini ibu yang sayang dan melindungiku.

“Ibu, bangun Bu, mereka ingin membunuhku, mereka ingin memisahkan kita, ibu aku mencintaimu, aku ingin bersamamu, ku mohon ibu, bangun, hanya aku yang menyayangimu, bukan wanita tua itu, bukan pula seseorang yang kau panggil Abi yang tak pernah menghiraukanmu, bahkan tidak pula si Kodok ini, mereka membenciku Ibu, membenci kita berdua, bangun Bu…” aku berusaha membisikan cintaku ke telinga ibu, namun ibu tak juga membuka matanya. Dayaku semakin lemah, aku tak lagi bisa berontak. Tiap detik yang kurasakan hanya sakit. Semuanya terasa kabur. Bayang-bayang. Napasku sesak, pandanganku gelap, terasa pengap, aku tak bisa bergerak, dan sebelum semuanya benar-benar lenyap, kulihat terakhir kalinya senyum kemenangan si Kodok berubah menjadi raut tak sedap.

“Ibu dan anak tidak bisa selamat”

Dan kuakhiri hidupku dengan senyuman, Ibu ternyata menyertaiku, ia menyayangiku, kemudian semuanya terlihat tak ada.

 

Usia cerpen ini sudah hampir 5 tahun, dan tersimpan rapi di laptop dan sebuah buku Antologi Sastra : Gelas Ibu Kelabu di Ujung Biru. Menjadi salah satu pengingat bagi saya untuk terus menulis, dimanapun saya berada. Menjadi kenangan manis, karena cerpen ini menjadi bagian dari buku pertama saya dan kawan-kawan seperjuangan. Fiksi memang hanya akan menjadi fiksi. Namun fiksi seringnya ada karena fakta yang tidak pernah aus dan terus bertelur di dunia ini. Teruslah menulis dan salam sastra. 

Advertisements

One thought on “Ibu, Hanya Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s